JAZAD DAN RUH INI MILIKMU...!!!!
JIKA SHOLAT KITA HANYA SEBAGAI PENGGUGURAN KEWAJIBAN TENTU SHOLAT KITA KAN TERGESA GESA..AKAN TETAPI JIKA SHOLAT KITA SEBAGAI PENGABDIAN TENTU AKAN DI HAYATI AKAN MAKNA PENGABDIAN.
IBADAH MERUPAKAN KEBUTUHAN MANUSIA LEBIH DARI PADA KEWAJIBAN
Bagi seorang muslim, setiap amal yang dilakukanya tentu harus didasari pada ilmu, semakin banyak ilmu yang diketahui, dimengerti dan dipahami, akan mengantarkan seseorang dapat mewujudkan amal ibadah yang bisa mendekatkan dirinya kepada Alloh swt.
Ibadah adalah sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai ke Maha Sucian Alloh baik yang berupa perintah, larangan, anjuran maupun informasi-informasi, serta bersikap penuh kasih-sayang kepada seluruh ciptaan-Nya.
“Manusia diciptakan tiada lain hanya untuk beribadah kepada-Nya.”
ini juga berarti bahwa, cara pandang, sikap, perilaku dan aktifitas keseharian kita selayaknya dilakukan sebagai wujud penghambaan kepada Alloh swt.
ini juga berarti bahwa, cara pandang, sikap, perilaku dan aktifitas keseharian kita selayaknya dilakukan sebagai wujud penghambaan kepada Alloh swt.
Maka seorang mukmin yang sejati ialah dia yang selalu sadar akan hakekat penciptaannya ini, dari kesadarannya ini memancar ke dalam cara berpikir dan prilaku kepribadiannya.
Setiap helai pemikiran, ucapan dan perilakunya mengandung ketundukan tulus kepada Alloh swt.
Mandi, berpakaian, makan, minum, olahraga, bekerja, tegur-sapa, berkeluarga dan seluruh aktifitas dima’nakan serupa dengan sholat, puasa, zakat dan ritual lainnya sebagai rangkaian peribadatan sehari-hari.
Mandi, berpakaian, makan, minum, olahraga, bekerja, tegur-sapa, berkeluarga dan seluruh aktifitas dima’nakan serupa dengan sholat, puasa, zakat dan ritual lainnya sebagai rangkaian peribadatan sehari-hari.
Dengan begitu, tidak akan ada ruang, atau paling tidak sedikit ruang bagi aktifitas-aktifitas yang bukan ibadah.
Dengan kata lain, komitmen pada kesadaran ini akan memberi sedikit ruang bagi berkembangnya potensi-potensi kemaksiatan dalam diri seorang insan.
Dengan kata lain, komitmen pada kesadaran ini akan memberi sedikit ruang bagi berkembangnya potensi-potensi kemaksiatan dalam diri seorang insan.
Jadi, nilai setiap aktifitas kita di hadapan Alloh swt tergantung pada pema’naannya secara filosofis, baik sebelum, sekarang maupun sesudah pelaksanaannya.
Hal ini sesuai dengan sabda Rosululloh saw:
“Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya.”
Hal ini sesuai dengan sabda Rosululloh saw:
“Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya.”
Jika dia beraktifitas dengan Niat rela untuk melaksanakan perintah Alloh swt dan Rosul-Nya saw, maka demikianlah Alloh dan Rosul akan menilainya.
Namun jika ia beraktifitas karena perkara duniawi atau karena menuruti kehendak nafsu pribadinya, maka nilai aktifitasnya akan bernilai tidak lebih dari itu saja.
Namun jika ia beraktifitas karena perkara duniawi atau karena menuruti kehendak nafsu pribadinya, maka nilai aktifitasnya akan bernilai tidak lebih dari itu saja.
IBADAH HANYA UNTUK ALLOH
Alloh swt berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka (beribadah) menyembah–Ku.”
(QS.51:56).
(QS.51:56).
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu -waktu- yang diyakini -ajal-.” (QS Al-Hijr [15]:99 )
Ibadah adalah menyembah, mengabdi dengan ta’at kepada Alloh swt, apabila seseorang menjadi “abdi” seorang hamba atau hamba sahaya tentu saja ia tidak memiliki sesuatu .. Apa yang dimilikinya adalah milik tuannya, dia adalah anak panah yang dapat digunakan tuannya untuk tujuan yang dikehendaki sang tuan, dan dalam saat yang sama dia juga harus mampu memberi aroma yang harum pada lingkungannya.
Pengabdian bukan hanya sekedar keta’atan dan ketundu’an, tetapi ia adalah satu bentuk ketundu’an dan keta’atan yang mencapai puncaknya, akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi, serta sebagai dampak dari keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau arti hakekatnya.
Empat unsur pokok yang merupakan hakekat ibadah:
1. Si pengabdi tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya, karena yang dinamai hamba tidak memiliki sesuatu. Apa yang “dimiliknya” adalah milik tuannya.
2. Segala usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepadanya ia mengabdi.
3. Tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya ia mengabdi.
4. Si pengabdi yakin bahwa jiwa raganya dikuasai oleh siapa yang dia mengabdi kepada-Nya.
1. Si pengabdi tidak menganggap apa yang berada dalam genggaman tangannya sebagai miliknya, karena yang dinamai hamba tidak memiliki sesuatu. Apa yang “dimiliknya” adalah milik tuannya.
2. Segala usahanya hanya berkisar pada mengindahkan apa yang diperintahkan oleh siapa yang kepadanya ia mengabdi.
3. Tidak memastikan sesuatu untuk dia laksanakan kecuali mengaitkannya dengan izin dan restu siapa yang kepadanya ia mengabdi.
4. Si pengabdi yakin bahwa jiwa raganya dikuasai oleh siapa yang dia mengabdi kepada-Nya.
Quraisy Shihab dalam tafsirnya berpendapat bahwa, ibadah atau pengabdian yang dimaksud dalam surat al-Fatihah ayat ke lima:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.”
Kalimat ini tidak terbatas pada hal-hal yang diungkapkan oleh ahli hukum islam “fiqih” ya’ni sholat, zakat, puasa, dan haji .. tapi mencakup segala macam aktifitas manusia, baik pasif maupun aktif, sepanjang tujuan dari setiap gerak dan langkah itu adalah Alloh swt. Sebagaimana tercermin dalam pernyataan yang di ajarkan oleh Alloh swt:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.”
Kalimat ini tidak terbatas pada hal-hal yang diungkapkan oleh ahli hukum islam “fiqih” ya’ni sholat, zakat, puasa, dan haji .. tapi mencakup segala macam aktifitas manusia, baik pasif maupun aktif, sepanjang tujuan dari setiap gerak dan langkah itu adalah Alloh swt. Sebagaimana tercermin dalam pernyataan yang di ajarkan oleh Alloh swt:
إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku -kesemuanya- demi karena Alloh Pemelihara seluruh alam semesta raya.” (QS.[6]:162).
Kaum sufi menjelaskan bahwa ada perbedaan antara “ibadah”-pengabdian- dan “ubudiyah”-penghambaan diri- kepada Alloh swt.
Ibadah adalah melakukan hal-hal yang dapat membuat ridho Alloh .. sedang “ubudiyah” adalah meridhoi apa yang dilakukan Alloh swt.
Ibadah adalah melakukan hal-hal yang dapat membuat ridho Alloh .. sedang “ubudiyah” adalah meridhoi apa yang dilakukan Alloh swt.
Ibnu Sina membagi motifasi ibadah menjadi tiga :
1. Pertama yang terendah adalah karena takut akan siksa-Nya, di ibaratkan dengan seorang hamba sahaya yang melakukan aktifitas karena dorongan takut bila merasa dilihat oleh tuannya.
2. Karena mengharap sorga-Nya, ini diibaratkan sebagai pedagang yang tidak melakukan aktifitas kecuali guna meraih keuntungan.
3. Karena dorongan cinta, bagaikan Ibu terhadap bayinya. Inilah yang dinamakan ubudiyah.
1. Pertama yang terendah adalah karena takut akan siksa-Nya, di ibaratkan dengan seorang hamba sahaya yang melakukan aktifitas karena dorongan takut bila merasa dilihat oleh tuannya.
2. Karena mengharap sorga-Nya, ini diibaratkan sebagai pedagang yang tidak melakukan aktifitas kecuali guna meraih keuntungan.
3. Karena dorongan cinta, bagaikan Ibu terhadap bayinya. Inilah yang dinamakan ubudiyah.
Alloh swt berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh ..?” (QS. 4:125).
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk -Niat- beribadah -menyembah- Alloh dengan ikhlas -memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan- agama dengan lurus.” (QS:98:5).
KEBERSAMAAN DALAM IBADAH
Alloh swt berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.” (QS.1:5)
Kata “kami” atau “kekamian” artinya “kebersamaan” yang digunakan ayat ini mengandung beberapa pesan :
1. Untuk menggambarkan bahwa ciri has ajaran islam adalah kebersamaan .. Seorang muslim harus selalu merasa bersama orang lain, tidak sendirian, atau dengan kata lain, setiap muslim harus memiliki kesadaran sosial.
Nabi Muhammad saw bersabda:
“Hendaklah kamu selalu bersama-sama -bersama jama’ah- karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian.”
“Hendaklah kamu selalu bersama-sama -bersama jama’ah- karena serigala hanya menerkam domba yang sendirian.”
Keakuan seorang muslim harus lebur secara konseptual bersama aku-aku lainnya, sehingga setiap muslim menjadi seperti yang digambarkan oleh Nabi Muhammad saw: “bagaikan satu jasad yang merasakan keluhan, bila satu organ merasakan penderitaan.”
Kesadaran secara -khusus- akan kebersamaan -sesama saudara muslim- ini tidak terbatas hanya pada lahiriyahnya saja, akan tetapi yang lebih penting dan utama adalah pada bathiniyahnya, karena “kekamian” disini secara bathin tidak bisa ditampakkan ke permukaan, karena menyangkut ibadah kepada Alloh swt .. Kesadaran tersebut wajib ditanamkan dalam kepribadiannya.
Secara -umum- kesadaran juga perlu ditanamkan dalam diri setiap pribadi muslim atas dasar prinsip bahwa seluruh manusia adalah satu kesatuan.
“Kamu semua berasal dari Adam, sedang Adam diciptakan dari tanah.”
Rasa inilah yang menghasilkan “kemanusiaan yang adil dan beradab”
“Kamu semua berasal dari Adam, sedang Adam diciptakan dari tanah.”
Rasa inilah yang menghasilkan “kemanusiaan yang adil dan beradab”
Seseorang yang diperkaya dengan kesadaran keterikatannya dengan sesamanya, tidak akan merasakan apa pun kecuali derita ummat manusia.
Ia akan berkawan dengan sahabat manusia, seperti pengetahuan, kesehatan, kemerdekaan, keadilan, keramahan dan sebagainya, dan dia akan bersetru dengan musuh manusia, seperti kebodohan penyakit, kemiskinan, prasangka, dan sebagainya.
Ia akan berkawan dengan sahabat manusia, seperti pengetahuan, kesehatan, kemerdekaan, keadilan, keramahan dan sebagainya, dan dia akan bersetru dengan musuh manusia, seperti kebodohan penyakit, kemiskinan, prasangka, dan sebagainya.
2. Sesorang yang membaca “iyyaka na’budu” -Hanya kepada-Mu kami mengabdi- dengan menonjolkan kekamiannya, pada hakekatnya menanamkan kedalam jiwanya sambil mengadu kepada Tuhan bahwa ibadah yang sedang dilakukannya itu masih melum mencapai kesempurnaan .. Sholatnya nelum khusyu’, pikirannya masih melayang, ruku’ dan sujudnya belum sempurna, bacaan-bacaanya belum terhayati dan lain sebagainya.
Namun demikian ia seakan-akan berkata kepada Alloh :
“Ya Alloh .. Aku datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada aku .. Gabungkanlah ibadahku dengan ibadah mereka .. Agar Engkau menerima pula ibadahku ..”
Namun demikian ia seakan-akan berkata kepada Alloh :
“Ya Alloh .. Aku datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada aku .. Gabungkanlah ibadahku dengan ibadah mereka .. Agar Engkau menerima pula ibadahku ..”
Salah satu hakekat ibadah adalah menyadari bahwa apa yang berada dibawah genggaman tangan si pengabdi atau yang menjadi -miliknya- pada hakekatnya adalah milik siapa yang kepada-Nya ia mengabdi.
Dalam hal ini bagi pengucap: “iyyaka na’budu” -adalah hanya kepada Alloh-, jika demikian, maka si pengucap dengan menghayati ma’na ibadah yang diucapkannya itu, telah menjadikan diri dan segala apa yang berada dalam genggaman tangannya menjadi milik Alloh swt semata-mata, tidak sedikitpun yang tersisa .. Bukankah ia telah menyatakan “hanya kepada-Mu ..?”
Alloh “pemilik“ hari perhitungan, “Maliki yaumiddin” mempunyai kekuasaan, kemampuan dan wewenang penuh untuk melakukan apa saja terhadap apa yang dimiliki-Nya .. berbeda dengan kepemilikan manusia.
Nah , ketika kita berkata “iyyaka na’budu” arti pemilkan Alloh seperti yang tersebut diatas -pemilik mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, di kritik atau dikecam- .. karena kita telah menyatakan -dihadapan-Nya- “iyyaka” .. Lalu disni muncul kalimat “na’budu” -hanya kepada-Mu- .. ini berarti “penyerahan hak milik” .. Bukankah “na’budu” mengandung arti “kami milik-Mu .?”
Nah , ketika kita berkata “iyyaka na’budu” arti pemilkan Alloh seperti yang tersebut diatas -pemilik mutlak yang tidak dapat diganggu gugat, di kritik atau dikecam- .. karena kita telah menyatakan -dihadapan-Nya- “iyyaka” .. Lalu disni muncul kalimat “na’budu” -hanya kepada-Mu- .. ini berarti “penyerahan hak milik” .. Bukankah “na’budu” mengandung arti “kami milik-Mu .?”
Demikian “kehadiran diri” si pengabdi yang kecil, lemah, tidak berdaya ini, dan “kehadiran Alloh” Yang Maha Besar lagi Agung itu, dicakup oleh kalimat yang sungguh sangat singkat “iyyaka na’budu”, tetapi tidak heran karena ia adalah firman-Nya yang diajarkan untuk kita ucapkan sehari-hari.
WA IYYAKA NASTA’IN -Hanya kepadamu kami memohon pertolongan-.
Mengandung ma’na bahwa kepada selain Alloh, si pengucap tidak memohon pertolongan.
Mengandung ma’na bahwa kepada selain Alloh, si pengucap tidak memohon pertolongan.
Penggalan ayat ini tidak bertentangan dengan sekian banyak ayat dan hadits yang memerintahkan manusia untuk saling tolong menolong, seperti firman-Nya:
“Tolong menolonglah dalam kebajikan dan taqwa.” (QS.5:3)
Atau sabda Nabi Muhammad saw:
“Alloh akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.”
Ayat dan hadits ini tidak bertentangan dengan kandungan ayat 5 surat al-fatihah, yang membetasi permohonan bantuan hanya kepada Alloh semata .. ini karena ada pertolongan yang berada dalam wilayah kemampuan manusia, dan ada pula yang diluar batas wilayah kemampuannya.
“Tolong menolonglah dalam kebajikan dan taqwa.” (QS.5:3)
Atau sabda Nabi Muhammad saw:
“Alloh akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.”
Ayat dan hadits ini tidak bertentangan dengan kandungan ayat 5 surat al-fatihah, yang membetasi permohonan bantuan hanya kepada Alloh semata .. ini karena ada pertolongan yang berada dalam wilayah kemampuan manusia, dan ada pula yang diluar batas wilayah kemampuannya.
Dalam kehidupan ini, ada yang dinamai hukum-hukum alam atau “sunnatulloh” -ketetapan-ketetapan Alloh-, yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata, seperti hukum-hukum sebab dan akibat.
Manusia mengetahui sebagian dari hukum-hukum tersebut .. ambillah contoh seorang yang sakit, ia lazimnya dapat sembuh apabila berobat dan mengikuti saran dokter .. tetapi jangan diduga bahwa dokter atau obat yang diminum yang menyembuhkan penyakit yang diderita itu .. Tidak .! Yang menyembuhkan adalah Alloh swt.
Kenyataan menunjukkan bahwa sering kali dokter telah “menyerah” dalam mengobati seorang pasien, bahkan telah memperkirakan batas waktu kemampuannya bertahan hidup. Namun dugaan dokter tersebut meleset, bahkan si pasien tak lama kemudian segar-bugar.
Apa arti semua itu .? Apa yang terjadi bukan sesuatu yang lazim. Ia tidak berkaitan dengan hukum sebab akibat yang selama ini kita ketahui.
Apa arti semua itu .? Apa yang terjadi bukan sesuatu yang lazim. Ia tidak berkaitan dengan hukum sebab akibat yang selama ini kita ketahui.
Jika demikian, dalam kehidupan kita disamping ada yang dinamai “sunnatulloh” -ketetapan-ketetapan Ilahi yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata seperti hukum sebab-akibat, dan ada juga yang dinamai “innayatulloh” -pertolongan dan bimbingan Alloh diluar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Ini dalam bahasa al-Qur’an dinamai dengan “madad”. Hanya saja perlu diketahui bahwa “madad” itu pun datang setelah ada upaya sebelumnya dari manusia.
Berkenaan dengan sunnatulloh atau hukum alam seperti hukum sebab dan akibat ..
Siapakah yang mengaturnya ..? Siapakah yang menjadikan ..? Siapakah yang mewujudkannya ..?
Kesembuhan seorang penderita, apakah disebabkan oleh obat yang diminumnya atau petunjuk dokter yang dita’atinya ..? Keduanya tidak .!
Ucapan Nabi Ibrohim as yang diabadikan oleh al-Qur’an:
“Kalau aku sakit, maka Dia -Alloh- yang menyembuhkan aku.” (QS.26:80)
Siapakah yang mengaturnya ..? Siapakah yang menjadikan ..? Siapakah yang mewujudkannya ..?
Kesembuhan seorang penderita, apakah disebabkan oleh obat yang diminumnya atau petunjuk dokter yang dita’atinya ..? Keduanya tidak .!
Ucapan Nabi Ibrohim as yang diabadikan oleh al-Qur’an:
“Kalau aku sakit, maka Dia -Alloh- yang menyembuhkan aku.” (QS.26:80)
Manusia atau alat yang digunakan, seperti obat bagi kesembuhan atau senjata untuk kemenangan atau alat apa saja untuk mencapai tujuan, kesemuanya hanyalah “perantara-perantara” dan pada akhirnya adalah ALLOH ALQOWIYYUL -‘ALIM -Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Ini berarti kita dituntut, sebelum ke dokter agar terlebih dahulu menghadapkan wajah dan jiwa kepada Alloh swt, memohon kiranya Dia memberikan pertolongan berupa kemudahan kepada dokter agar dapat mendiagnosa penyakit dan memberi obat yang sesuai .. sambil mengharapkan pula agar obat yang diberikannya itu sesuai, sehingga penyakit yang dideritanya dapat sembuh.
Demikian juga sebelum melangkahkan kaki ke rumah teman untuk meminjam sesuatu, maka hadapkanlah jiwa kepada Alloh, semoga Dia memberi kemampuan kepada teman yang dituju untuk bisa membantu, dan semoga Alloh melunakkan hatinya, sehingga ia tergugah untuk meringankan beban kita .. Demikian seterusnya ..
Tidak ada alasan untuk meragukan adanya “innayatulloh” ini, karena tidak ada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dengan peristiwa yang terjadi berulang-ulang kali, selama kita percaya bahwa yang mewujudkannya adalah Alloh, Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.
Nah , kalau demikian halnya, maka menjadi sangat logis apabila ayat ke lima ini mengajarkan kepada kita untuk menegaskan “dan hanya kepada-Mu kami memohon bantuan, baik bantuan itu termasuk dalam hukum sebab dan akibat yang telah kita ketahui, atau “sunnatulloh”, maupun diluar “sunnatulloh” yang dinamai “innayatulloh”.
Namun sekali lagi harus di ingat bahwa pertolongan Alloh yang berada diluar wilayah hukum sebab-akibat itu tidak dapat terjadi atau diperoleh tanpa mengikuti petunjuk yang telah digariskan oleh Alloh swt dan Nabi Muhammad saw.
“Mintalah bantuan -kepada Alloh- melalui kesabaran dan sholat.” (QS.2:45).
“Mintalah bantuan -kepada Alloh- melalui kesabaran dan sholat.” (QS.2:45).
Salah satu aspek kesabaran tersebut adalah kesabaran dan ketabahan dalam melaksanakan peranan yang dituntut dari si pemohon, ya’ni ketabahan dalam melaksanakan tugas atau menanggulangi problema.
Tetapi kerja keras dan ketabahan saja belum cukup untuk mencapai bantuan Ilahi .. masih dibutuhkan lagi sholat, baik dalam arti do’a maupun dalam arti gerak dan bacaan tertentu yang dimulai dengan tulus NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH ..
Tetapi kerja keras dan ketabahan saja belum cukup untuk mencapai bantuan Ilahi .. masih dibutuhkan lagi sholat, baik dalam arti do’a maupun dalam arti gerak dan bacaan tertentu yang dimulai dengan tulus NIAT MELAKSANAKAN PERINTAH ALLOH DAN SUNNAH ROSULULLOH ..
Kehidupan bermasyarakat yang sehat adalah pada saat setiap anggotanya betapa pun terdapat perbedaan pendapat, semua harus menghargai aturan yang berlaku.
Demikian juga semua indifidu harus menghargai aturan, kode etik, batasan serta memberikan cinta dan kasih sayang kepada indifidu yang lain atau anggota masyarakatnya .. Kalau ini dapat diwujudkan, maka syarat pertama dari “kehadiran Ilahi” terpenuhi .. Itulah bantuan Alloh yang didambakan datang melalui kerja sama antara manusia ..
Demikian juga semua indifidu harus menghargai aturan, kode etik, batasan serta memberikan cinta dan kasih sayang kepada indifidu yang lain atau anggota masyarakatnya .. Kalau ini dapat diwujudkan, maka syarat pertama dari “kehadiran Ilahi” terpenuhi .. Itulah bantuan Alloh yang didambakan datang melalui kerja sama antara manusia ..
Manusia ebagai makhluk sosial, setiap orang harus sadar bahwa ia bergantung kepada pihak lain, dimana kebutuhannya tidak dapat terpenuhi melalui usahanya, atau usaha kelompoknya bahkan usaha bangsanya sendiri ..
“Hidup .. baru mungkin akan terasa nyaman apabila dibagi dan berbagi dengan orang lain, sehingga masing-masing berperan serta dalam menyediakan kebutuhan bersama ..”
“Hidup .. baru mungkin akan terasa nyaman apabila dibagi dan berbagi dengan orang lain, sehingga masing-masing berperan serta dalam menyediakan kebutuhan bersama ..”
Ayat lima ini mendahulukan “iyyaka na’budu” atas “iyyaka nasta’in” merupakan upaya ibadah mendekatkan diri kepada Alloh, lebih wajar untuk didahulukan daripada meminta pertolongan-nya.
Bukankah sebaiknya anda mendekat lebih dulu sebelum meminta ..?
Disisi lain ibadah dilakukan oleh yang bermohon, sedang meminta bantuan adalah mengajak fihak lain untuk ikut serta.
Memulai dengan upaya yang dilakukan sendiri, lebih wajar didahulukan daripada upaya meminta bantuan fihak lain.
Bukankah sebaiknya anda mendekat lebih dulu sebelum meminta ..?
Disisi lain ibadah dilakukan oleh yang bermohon, sedang meminta bantuan adalah mengajak fihak lain untuk ikut serta.
Memulai dengan upaya yang dilakukan sendiri, lebih wajar didahulukan daripada upaya meminta bantuan fihak lain.
Selanjutnya salah satu hal yang diharapkan bantuan-Nya adalah menyangkut -pahala- ibadah itu sendiri, sehingga menjadi sangat wajar menyebut ibadah terlebih dahulu yang merupakan tujuan .. Baru kemudian membulatkan tekad mewujudkannya agar dibantu antara lain dalam meraih kesempurna’an ibadah itu sendiri ..
Bahwa ibadah yang sedang dilakukannya itu masih belum mencapai kesempurna’an, maka ia datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada dirinya .. Sehingga Alloh menggabungkan ibadahnya dengan ibadah mereka .. Agar Alloh menerima pula ibadahnya ..
Bahwa ibadah yang sedang dilakukannya itu masih belum mencapai kesempurna’an, maka ia datang bersama yang lain, yang lebih sempurna ibadahnya daripada dirinya .. Sehingga Alloh menggabungkan ibadahnya dengan ibadah mereka .. Agar Alloh menerima pula ibadahnya ..
“Permohonan bantuan kepada Alloh adalah agar Dia mempermudah apa yang tidak mampu diraih oleh yang bermohon dengan upaya sendiri.”











1xbet korean
BalasHapusWithdrawal time, maximum time limit for players to deposit, withdraw, sportsbook. Withdrawals on the registration page. Withdrawal time is 30 1xbet мобильная версия minutes.