Cinta paruh waktu
Cinta Usia Paruh Baya Mengapa Tidak ?
Di kalangnan masyarakat tersebar pandangan bahwa usia empat puluh (40) tahun adalah usia rawan. Dalam bahasa populer, disebut usia paruh baya. Usia yang dimaksud adalah mulai 40 sampai 60 tahun. Masa ini merupakan umur transisi dari dewasa menuju ke usia tua, dan banyak terjadi perubahan. Baik perubahan fisik maupun perubahan psikologis. Banyak yang menyebutnya dengan masa puber kedua.
Dari sudut fisik manusia mengalami masa perkembangan dan mencapai puncaknya pada usia tersebut. Namun kemudian fisik manusia mulai mengalami kemunduran. Adanya perubahan ini yang kemudian membuat beragamnya tanggapan masyarakat dalam menyikapinya. Ada yang merespon dengan cara positif dan ada pula yang merespon negative.
Mereka yang merespon negative beranggapan bahwa masa ini adalah masa yang menakutkan. Sehingga menjadi masalah tersendiri yang membebani secara psikologis. Respon negative yang muncul dalam diri umumnya menumbuhkan berbagai kekhawatiran. Mulai dari kegelisahan menurunnya daya kemampuan fisik, kemampuan otak ( tingkat lupa mengingat ) dan juga kemampuan terhadap pasangan. Maka masa transisi inipun menjadi salah satu faktor rawannya kehidupan pernikahan.
Terlebih pada kaum ibu, harap-harap cemas akan datangnya masa menopause menjadi masalah tersendiri. Kondisi ini pada akhirnya mendorong untuk mengubah penampilan, layaknya remaja belasan tahun. Jika tidak terjadi komunikasi yang baik dengan pasangan, maka sering terjadi kesalah pahaman yang berujung pada ketidakharmonisan. Rasa cinta kepada pasangan semakin tergerus bersama berlalunya waktu. Sosok pasangan hidup dirasa tak lagi punya daya tarik yang kuat seperti dulu, bahkan di sebagian pasangan sudah mulai dilanda kejenuhan.
Sedangkan mereka yang merespon positif beranggapan bahwa masa ini adalah masa yang harus di nikmati. Walau secara fisik mengalami penyusutan kapasitas tapi di sisi lain terjadi proses kematangan emosional, intelektual dan spiritual. Atau dengan kata lain saat dimana seseorang itu mencapai puncak produktivitasnya. Sehingga bisa menjadi awal kehidupan yang lebih baik.
Demikian pula dalam kehidupan pernikahan, semakin tua usia pernikahan semakin banyak pengalaman, berbekal interaksi dan komunikasi yang intens dan intim dengan pasangan. Seyogyanya pada usia sudah terbentuk keselarasan pemahaman diantara keduanya yang membuat masing-masing sadar akan kewajiban untuk menjaga dan melestarikan ikatan cinta dan kasih sayang, agar pernikahan tidak terasa hambar tanpa rasa. Dan kehidupan pernikahan semakin membahagiakan, bukan semakin menjadi beban.
Jangan pernah ada kata ‘dulu’ , suamiku begini, dulu istriku begitu. Akan merugikan jika kita menilai pasangan kita dengan standar dulu. Karena pasangan hidup kita bukanlah pribadi yang sama yang hidup belasan tahun lalu. Dia manusia dan terus bergerak dan berubah. Ketidaksiapan kita pada dinamika yang berkembang pada pasangan kita membuat kita terperangkap pada perasaan jenuh atau bosan dan bila tidak diperbaiki bisa berakibat pada matinya rasa dan hilangnya cinta.
Cinta adalah kata kerja, bukan kata sifat atau kata benda. Kita harus MENCINTAI pasangan kita. Terkadang kehidupan memaksa kita berlari untuk mewujudkan segala mimpi kita, sehingga menyepelekan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan pasangan kita. Tak ada prioritas waktu untuk memeliharanya. Dan kita terlalu berbaik sangka dengan modal keindahan cinta yang telah tercipta di awal-awal pernikahan. Padahal cinta tak ubahnya bagaikan tanaman yang memerlukan pemeliharaan, tanpa perawatan cintapun akan layu dan kalau terus di biarkan maka ia pun akan mati.
Hal ini bisa dilihat dari banyaknya kasus-kasus perceraian yang diakibatkan perasaan yang telah kehilangan cinta terhadap pasangannya. Bahkan untuk di Indonesia saja angka kasus perceraian menembus angka 200.000 pasangan per tahun.
Agar cinta tetap bersemi sepanjang pernikahan bahkan semakin bergelora di usia paruh baya, maka harus ada upaya yang serius untuk saling menumbuhkan cinta, berusaha menciptakan kreativitas dalam mengembangkan hal-hal baru yang yang akan mengikat rasa cinta dan kasih sayang, agar bisa menikmati sisa hidup maghligai rumah tangga dengan bahagia bersama pasangannya.
Berikut ini tips yang diberikan oleh Dia Hidayati Usman, MA pengasuh rubik keluarga pada majalah tatsqif sekaligus dosendosen tafsir hadis di STAI Shalahuddin Al Ayubi Jakarta. Langkah-langkah ini diharapkan menjadi angin segar yang membuat cinta tetap bersemi di sepanjang usia pernikahan kita.
Pertama, adanya cinta dan kasih sayang sebagaimana Allah berfirman : “Dan dia jadikan antara kalian (suami dan istri) cinta dan kasih sayang” ( QS. Ar Rum 30/21). Karenanya kita harus tekadkan bahwa kita tidak akan menghancurkan perasaan itu. Saling percaya dan mempertahankan kepercayaan itu, saling menjaga perasaan jangan sering mengucapkan kalimat yang membuat pasangan kita tersinggung, dan ingatlah bahwa cinta adalah bagian dari keimanan, ada cinta ada aksi kebaikan dan setiap kebaikan yang kita lakukan dalam keluarga vadalah ibadah.
Kedua, ciptakan hubungan persahabatan (shadaaqah) dengan pasangan kita, biasanya seorang yang bersahabat dengan orang lain akan lebih dekat dan lebih percaya untuk mencurahkan perasaan dan masalah. Oleh karena itu jadikanlah pasangan kita dalam segala hal, kita harus sharing dalam suka maupun duka dan jangan saling menyimpan sesuatu yang seharusnya dipecahkan bersama karena akan menjadi aktivitas terhambat. Paling tidak hati kita akan nyaman jika kita sudah menumpahkannya kepada pasangan hidup kita yang juga sebagai sahabat tempat bercurah hati.
Ketiga, hidupkan kebiasaan berkomunikasi, meski jauh kita harus tetap kontak menanyakan keadannya sehingga diantara kita tidak ada ada yang merasa terabaikan, bahkan merasa selalu diperhatikan. Dengan komunikasi kita juga bisa berbagi permasalahan, maka jika tradisi komunikasiini sudah terputus, maka hati otomotis akan tercekam. Tidak ada lagi keceriaan dalam rumah, tidak ada lagi keseriusan dalam membina rumah, karena rumah tangga itu ibarat sebuah organisasi yang terdiri dari sebuah struktur keanggotaan dan mempunyai program yang sangat banyak, tentunya untuk memperlancar semua program harus ada komunikasi antar semua yang terlibat didalamnya. Kalu tidak ada komunikasi, bagaimana mungkin kemesraan dalam rumah tangga tercipta ? bisa dipastikan tidak mungkin bisa terjadi saling menumpahkan kata-kata indah pada suami atau istri.
Keempat, musyawarahkan setiap permasalahan yang rumit baik yang datang dari faktor internal maupun eksternal, karena Allah berfirman : “Dan bermusyawarahlah kamu dalam urusan itu” (QS. Ali Imran 3/159). Menyelesaikan permasalahan dengan asas musyawarah akan menghilangkan sikap saling menyalahkan, dan otomatis hubungan akan menjadi semakin baik apalagi dikuti dengan saling memaafkan.
Kelima, adanya saling menghormati, seorang istri tentunya akan menghormati suaminya sebagai kepala keluarga yang telah bertanggung jawab menjaga keluarga, begitu pula seorang suami harus menghormati istrinya yang telah melayani dan merawat anak-anaknya. Tidak dalam konteks itu saja, Tapi juga saling menghormati gagasan, sebab masing-masing dari suami istri tidak mustahil adanya gagasan yang beragam. Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda : Man laa yarham laa yurham (siapa yang tidak menyayangi, ia tidak disayangi) (HR. Bukhari no 5538), maka orang yang tidak menghormati orang lain, ia juga tidak akan dihormati. Jangan berharap rumah tangga kita akan utuh tanpa adanya saling menghormati dan saling menyayangi antar anggota keluarga.
Inilah beberapa tips yang saling dukung satu sama lain. Jika terabaikan salah satunya maka akan hilanglah peredaran cinta dalam rumah tangga.
Masa paruh baya bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi dan disyukuri, karena sesungguhnya masa itu adalah masa yang istimewa kalau kita bisa mengelolanya dengan baik. Tengoklah referensi sejarah, bukankah Muhammad saw diangkat menjadi Rasul oleh Allah pada usia 40 tahunan ? Dengan upaya bersama, cinta akan tetap bersemi dan lestari meski sudah menapaki usia paruh baya.








Komentar
Posting Komentar